Sabtu, Oktober 16, 2021

AHY Sebut Pemimpin Perlu Memberikan Kesempatan Kepada Generasi Muda

Must Read
IndoIssue.com adalah media online yang fokus pada berita politik nasional, daerah dan internasional, serta menyuarakan opini & aspirasi melalui suara netizen.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan pemimpin besar tidak sibuk memikirkan pemenangan pemilu. Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan pidato kebangsaan pada peringatan 50 tahun Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

AHY menegaskan bahwa Indonesia butuh kepemimpinan yang visioner, mempersatukan, dan mampu melipatgandakan seluruh potensi dan pemimpin di Indonesia tak boleh sibuk dengan politik praktis.

“Pemimpin besar menghabiskan waktu pikiran dan tenaganya bukan untuk memenangkan pemilu berikutnya, melainkan untuk mempersiapkan generasi penerusnya,” kata AHY di kanal YouTube CSIS Indonesia, Senin (23/8).

Selain itu, AHY juga membahas keberpihakan pemimpin pada generasi muda. Menurutnya, pemimpin perlu memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk membuktikan diri.

Dia berpendapat generasi muda tidak boleh diberi karpet merah. Namun, pemimpin juga tak boleh membiarkan generasi muda tumbuh sendirian.

“Perlu bimbingan, nasihat, dan pengalaman dari para pemimpin, para senior, dan generasi pendahulunya, bukan dilecehkan, dibungkam, apalagi dimatikan jalannya,” ujar AHY.

“Generasi muda harus dituntun, sekaligus ditempa dan dipersiapkan menjadi pemimpin pemimpin hebat, game changer, history maker, motor penggerak kemajuan bangsa di masa depan,” ucap AHY.

Disisi lain, AHY juga menyayangkan ketika ada pejabat pemerintah serta elite politik yang seolah tidak tahan dengan kritik. Misalnya ketika ada yang berbeda pandangan, langsung dicap tidak Merah Putih. Menurut AHY, justru kalangan yang diam saja ketika ada kejanggalan lah yang seharusnya diberi stempel tidak Merah Putih.

AHY pun menyinggung keberadaan pendengung atau buzzer di media sosial. AHY menilai fenomena keberadaan buzzer turut berperan dalam indeks penurunan demokrasi di Indonesia. Alasannya, buzzer tersebut kerap menyebarkan fitnah dan kebohongan terhadap kelompok tertentu yang berbeda pandangan.

“Kenyataannya, justru sekarang ada profesi baru, yaitu pasukan buzzer yang memang pekerjaannya memproduksi dan menyebar fitnah dan kebohongan, termasuk menghabisi karakter seseorang atau sesuatu kelompok yang dianggap berbeda sikap dan pandang,” kata AHY.

Penulis: Mu’afa RM

Terbaru

Lolos Ke Semifinal, Indonesia Berhasil Bikin Malu Malaysia

Indoissue.com - Indonesia berhasil mengalahkan lawanya, yaitu Malaysia di babak perempat final Thomas Cup 2021 di Ceres Arena, Jumat...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com