Sabtu, Oktober 16, 2021

Inilah 5 Fakta Terbaru Kombes Rachmat Widodo dan Aurellia

Must Read

Indoissue.com- Kericuhan antara anak dan ayah, Aurellia Renatha dengan Kombes Rachmat Widodo, memasuki babak baru. Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan penyerangan tersebut.

Kasus ini mengemuka pada Juli 2021. Berawal dari artikel viral oleh Aurellia Renatha tentang dugaan penganiayaan ayahnya.

Keduanya melapor ke polisi setelah kejadian tersebut. Aurellia dan Rachmat Widodo sama-sama ditetapkan sebagai tersangka kasus kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan.

Kombes Rachmat Widodo sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka. Setahun kemudian, Aurellia Renatha memposting foto dirinya sedang memegang surat panggilan dari Polres Jakarta Utara. Anehnya, panggilan itu menunjukkan bahwa Aurellia Renatha telah dipanggil sebagai tersangka.

“Ya benar. Selesai,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Guntur Arif Dermawan saat dimintai konfirmasi penetapan tersangka Aurelia, Kamis.

Ada upaya perdamaian

Hubungan antara anak dan ayah, Aurellia Renatha dan Kombes Rachmat Widodo, terputus setelah insiden dugaan penganiayaan oleh sang ayah. Di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, Aurellia sempat berinisiatif berdamai dengan ayahnya.

“Bahkan April 2021 lalu hampir damai, saya yang menggagasnya,” kata Aurellia saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (7/10/2021).

Aurellia telah menyatakan keinginannya untuk mengakhiri konflik dengan ayahnya. Ia menginisiasi damai karena ingin mencari ketenangan batin.

Sat itu, Aurellia dengan penuh harapan pergi ke Polres Metro Jakarta Utara untuk menemui ayahnya. Ia tiba di Polres Metro Jakarta Utara sekitar pukul 09.00 WIB dini hari untuk proses perdamaian.

“Saya datang dari jam 9.00 WIB, saya tunggu sampai sore jam 16.30 WIB, ayah saya tidak datang. Saya merasa dipermainkan,” ujarnya.

Namun, setelah berjam-jam menunggu, Aurellia tidak bisa bertemu ayahnya di Polres Metro Jakarta Utara. Hingga akhirnya penyidik menghubungi Kombes Rachmat Widodo, mengabarkan kedatangan putrinya.

Terakhir, Kombes Rachmat Widodo meminta agar pertemuan tersebut dipindahkan ke sebuah kafe di Kelapa Gading, Aurellia dan penyidik kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat yang telah ditentukan.

Aurellia juga ditemani oleh ibunya. Penandatanganan perjanjian damai ini diharapkan dapat dilakukan oleh Kombes Rachmat Widodo dan ibunda Aurellia.

Sayangnya, rencana perdamaian dibatalkan. Kombes Rachmat Widodo memanaskan situasi selama upaya perdamaian tersebut.

“Di situ yang (mau) tanda tangan mama saya sama Papah. Jadi saya benar-benar nggak ngomong apa-apa. Malah tiba-tiba kepala saya ditunjuk, ‘Kau nggak kawin kau’, ya udah nggak jadi akhirnya,” katanya.

Mendengar ucapan Kombes Rachmat Widodo kali ini, ibunda Aurellia pun bereaksi.
“Mama saya ngebelain ‘kok ngomong gitu sih’, ya udah akhirnya nggak jadi damai akhirnya,” katanya

Aurellia tidak menyangka akan menjadi tersangka

Aurellia Renatha tidak menyangka dirinya menjadi tersangka dalam kasus ini. Menurut Aurellia, dia adalah korban dalam kasus ini. Posisi Aurellia saat berseteru dengan ayahnya adalah bentuk pertahanan diri.

“Saya kira tidak begitu, apakah itu dari ayah saya atau bukan. Tapi di sini saya tidak melakukan kejahatan dan saya juga melihat banyak kejanggalan,” kata Aurellia, Jumat (8/10/2021).

“Saya yang korban, malah saya tersangka, kan aneh dan sudah janggal saya membela diri. Saya jadi tersangka karena luka gigitan,” jelas Aurellia

Kombes Rachmat Widodo disanksi Polri

Kapolri Kepolisian Negara Prefektur memberikan sanksi kepada Kombes Rachmat Widodo berdasarkan sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) beberapa bulan lalu berupa penurunan pangkat menjadi perwira menengah (pamen) Pelayanan Markas (Yanma).

“Sanksi bersifat administratif dipindahtugaskan ke jabatan berbeda yang bersifat demosi selama 1 tahun semenjak dimutasikan ke Yanma Polri,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono saat dihubungi, Jumat (8/10/2021).

Adapun sidang KKEP atas nama terduga pelanggar Kombes Drs Rachmat Widodo, yang merupakan mantan Penyidik Utama Rowassidik Bareskrim Polri, dilaksanakan pada Senin, 5 April 2021. Rachmat diduga melanggar Pasal 11 huruf c dan Pasal 11 huruf d Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Selain sanksi administratif, Argo menjelaskan, Rachmat juga dikenai sanksi etika. Dia diminta untuk meminta maaf kepada pimpinan Polri hingga pihak-pihak yang dirugikan.

“Sanksi bersifat etika: perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan memalukan. Kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara lisan di hadapan sidang KKEP dan/atau secara tertulis kepada pimpinan Polri dan pihak yang dirugikan, “katanya.

Sementara itu, Argo melanjutkan, Kombes Rachmat Widodo masih akan diawasi setelah menjalani sanksi etika dan administratif.. Rachmat telah berada di bawah pengawasan polisi selama sebulan.

Kasus pelecehan anak, Kombes Rachmat Widodo, telah diadili oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Sudah Disidangkan

“Terkait yang ini untuk bapaknya sudah disidangkan dan untuk dua anaknya belum tahap II,” kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kejari Jakut), M Sofyan Iskandar, saat dihubungi detikcom, Jumat (8/10/2021).

Lebih lanjut persidangan Kombes Rachmat ternyata telah berlangsung di PN Jakut. Saat ini sidang Kombes Rachmat telah memasuki agenda pemeriksaan saksi.

“Untuk ayahnya, sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara sudah pada tahap pemeriksaan saksi-saksi,” katanya.

Kegagalan mediasi

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Guruf Arif Darmawan mengatakan mediasi telah dilakukan dalam beberapa kesempatan. Terakhir, mediasi dilakukan sebelum polisi menyerahkan berkas kasus Rachmat Widodo.

“Sebenarnya beberapa waktu lalu ada upaya mediasi. Saya tidak tahu ceritanya. Kami juga tidak bisa memaksa,” kata Guruh saat dihubungi pihak detikcom, Jumat (8/10/2021).

Guruh tidak merinci kegagalan mediasi tersebut. Dia hanya mengatakan bahwa kedua belah pihak setuju untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

“Mereka adalah satu keluarga, ada upaya kemarin, tampaknya, tetapi tidak berhasil. Tapi kalau misalnya mereka menerima perdamaian, kami hanya memfasilitasi. Tapi tidak ada kesamaan. Ya, kami sepakat untuk menempuh jalur hukum,” kata Guruh.

“Polisi tidak bisa memaksa orang untuk campur tangan. Mediasi adalah inisiatif dua pihak antara pelapor dan terlapor. Karena mereka adalah satu keluarga, ya sudah silakan kalau mau mediasi. Kami memfasilitasi, tetapi tidak ada titik temu,” tambah Guruh. [WK]

Terbaru

Lolos Ke Semifinal, Indonesia Berhasil Bikin Malu Malaysia

Indoissue.com - Indonesia berhasil mengalahkan lawanya, yaitu Malaysia di babak perempat final Thomas Cup 2021 di Ceres Arena, Jumat...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com