Sabtu, Oktober 16, 2021

Istri Penumpas PKI Wafat, Berikut Biodata Sarwo Edhie WIbowo

Must Read
IndoIssue.com adalah media online yang fokus pada berita politik nasional, daerah dan internasional, serta menyuarakan opini & aspirasi melalui suara netizen.

Indoissue.com – Ibu mertua Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sunarti Sri Hadiyah Sarwo Edhie Wibowo wafat pada hari Senin (20/9/2021), pada pukul 17.45 WIB, karena sakit.

Almarhumah merupakan istri dari tokoh penumpas Gerakan 30 September 1965, yaitu Komandan Sarwo Edhie Wibowo.

“Telah berpulang, almarhumah Ibu Ageng/Sunarti Sri Hadiyah Sarwo Edhie Wibowo binti Danu Sunarto, ibunda almarhumah Bu Ani Yudhoyono, nenek dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, pada usia 91 tahun,” kata Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra, Senin.

Herzaky menuturkan, saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka yang terletak di kawasan Condet, Jakarta Timur sebelum dibawa ke Purworejo pada malam ini.

“Almarhumah akan dikebumikan esok hari di pemakaman keluarga di Purworejo, Jateng,” ujar Herzaky.

Informasi meninggalnya Ibu Ageng juga disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY di akun Instagram-nya.

AHY menilai neneknya itu sebagai sosok yang menjadi pengayom keluarga.

“Bu Ageng adalah sosok ibu dan eyang panutan yang selama ini selalu bijaksana, penuh semangat, dan cinta, serta selalu menjadi pengayom keluarga. Sosoknya begitu berkesan mendalam di hati kami semua,” ujar AHY.

“Almarhumah Memo (Ani Yudhoyono) selalu menyebutnya menjadi ‘pamonge jagad’ dalam keluarga kami,” tulis AHY melalui akun Twitternya.

BIODATA SARWO EDHIE PRABOWO:

Nama              : Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo

Kelahiran        : 25 Juli 1925, Kabupaten Purworejo

Meninggal       : 9 November 1989, Jakarta

Dimakamkan  : 10 November 1989 di Purworejo

Pasangan        : Hj. Sri Sunarti Hadiyah

Orang tua        : Raden Ayu Sutini dan Raden Kartowilogo

MEREKA MEMPUNYAI 7 ANAK:

  1. Wijiasih Cahyasasi
  2. Wrahasti Cendrawasih
  3. Kristiani Herrawati
  4. Mastuti Rahayu
  5. Pramono Edhie Wibowo
  6. Retno Cahyaningtyas
  7. Hartanto Edhie Wibowo

Cucu:

  1. Agus Harimurti Yudhoyono
  2. Edhie Baskoro Yudhoyono
  3. Ayu Ratna Pratiwi
  4. Yusuf Putra Pramono

KARIER:

  • Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945-1951)
  • Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951-1953)
  • Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959-1961)
  • Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962-1964)
  • Komandan RPKAD/Danjen Kopassus ke-5 (1964-1967)
  • Panglima Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan ke-13 (25 Juni 1967 – 2 Juli 1968)
  • Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih ke-4 (2 Juli 1968 – 20 Februari 1970).

Kilas Balik Tragedi G30S 1965

Sarwo Edhie Wibowo memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dalam posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini).

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Sementara proses penculikan sedang dieksekusi, sekelompok pasukan tak dikenal menduduki Monumen Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung telekomunikasi.

Hari dimulai seperti biasanya bagi Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD yang sedang menghabiskan pagi mereka di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. Kemudian Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba.

Sudiro mengumumkan bahwa ia membawa pesan dari markas Kostrad dan menginformasikan kepada Sarwo Edhie tentang situasi di Jakarta.

Sarwo Edhie juga diberitahu oleh Sudiro bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat.

Setelah memberikan banyak pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak dengan Soeharto.

Setelah Sudiro pergi, Sarwo Edhie dikunjungi oleh Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa. Sabur meminta Sarwo Edhie untuk bergabung dengan Gerakan G30S.

Sarwo Edhie mengatakan kepada Sabur dengan datar bahwa ia akan memihak Soeharto.

Pada pukul 11:00 siang hari itu, Sarwo Edhie tiba di markas Kostrad dan menerima perintah untuk merebut kembali gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 06:00 petang (batas waktu dimana pasukan tak dikenal diharapkan untuk menyerah).

Ketika pukul 06:00 petang tiba, Sarwo Edhie memerintahkan pasukannya untuk merebut kembali bangunan yang ditunjuk. Hal ini dicapai tanpa banyak perlawanan, karena pasukan itu mundur ke Halim dan bangunan diambil alih pada pukul 06:30 petang.

Dengan situasi di Jakarta yang aman, mata Soeharto ternyata tertuju ke Pangkalan Udara Halim.

Pangkalan Udara adalah tempat para Jenderal yang diculik dan dibawa ke basis Angkatan Udara yang telah mendapat dukungan dari gerakan G30S.

Soeharto kemudian memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali Pangkalan Udara.

Memulai serangan mereka pada pukul 2 dinihari pada 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD mengambil alih Pangkalan Udara pada pukul 06:00 pagi. (AV)

Terbaru

Lolos Ke Semifinal, Indonesia Berhasil Bikin Malu Malaysia

Indoissue.com - Indonesia berhasil mengalahkan lawanya, yaitu Malaysia di babak perempat final Thomas Cup 2021 di Ceres Arena, Jumat...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com