Kamis, Oktober 21, 2021

Pengamat Nilai Klaim Menkeu Keberhasilan Ekonomi Indonesia Semu

Must Read
IndoIssue.com adalah media online yang fokus pada berita politik nasional, daerah dan internasional, serta menyuarakan opini & aspirasi melalui suara netizen.

Indoissue.com – Bhima Yudhistira Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan pemerintah cenderung melihat persoalan secara parsial kemudian dibandingkan overclaim keberhasilan yang semu.

Hal tersebut diungkap untuk menanggapi Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyebut ekonomi Indonesia sudah pulih karena mengalami pertumbuhan 7,07 persen.

“Klaim pemerintah cenderung melihat persoalan secara parsial kemudian dibandingkan overclaim keberhasilan yang semu,” Bhima Yudhistira pada, Kamis siang (2/9/2021)

hal tersebut dikarenalkan Malaysia memprioriaskan kesehatan demi keselamatan warganya. Begitu pun dengan Singapura yang merespons cepat varian delta Covid-19 dengan melakukan pembatasan ketat.

Sebaliknya Indonesia terbilang telat dalam menetapkan PPKM Darurat tertanggal 3 Juli 2021 ketimbang Malaysia dan Singapura. Itupun, ketika lonjakan kasus Covid-19 sudah naik sejak minggu kedua Juni.

“Ada kesan pemerintah ingin menjaga pertumbuhan tinggi di kuartal ke-II 2021. Misalnya dengan pembukaan tempat wisata secara prematur, sehingga kesulitan lakukan tracing. Padahal negara lain sedang bersiap hadapi lonjakan kasus gelombang kedua dan ketiga,” ujarnya.

Bhima menilai selain pemerintah lebih mementingkan ekonomi jangka pendek, kualitas pertumbuhan ekonomi di kuartal ke-II 2021 sebenarnya rendah. Hal itu setidaknya terlihat dari sektor pertanian yang menyerap 29,5 persen tenaga kerja hanya tumbuh 0,38 persen di periode tersebut.

“Itu pun temporer sifatnya,” jelasnya Bhima.

Direktue Celios menyarankan sebaiknya pemerintah saat ini fokus saja soal serapan anggaran kesehatan dan meningkatkan belanja perlindungan sosial.

“Repot kalau hanya patokan di kuartal ke II tanpa persiapkan tantangan lebih berat yang datang dari tapering off bank sentral AS, risiko imported inflation (inflasi karena harga barang impor naik), dan pemulihan ekonomi yang uneven atau tidak merata di semua sektor,” tutupnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim ekonomi Indonesia sudah membaik (rebound) dibandingkan tahun lalu yang kontraksi parah. Dia membandingkan Malaysia hingga Singapura yang belum bernasib sama.(PR)

Terbaru

Berikut Profil AHY, Ketua Umum Partai Demokrat

Indoissue.com - Agus Harimurti Yudhoyono yang dikenal luas dengan panggilan AHY, saat ini menduduki posisi sebagai Ketua Umum Partai...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com