Pidato AHY dalam HUT 50 Tahun CSIS Jadi Sorotan Lintas Negara

0
215

IndoIssue – Pidato Kebangsaan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menutup rangkaian pidato para Ketua Umum partai politik dalam rangka 50 tahun CSIS.

Tampil sebagai Ketua Umum yang paling muda, AHY menekankan tentang perlunya memperkuat daya tahan dan daya saing bangsa untuk mencapai puncak kejayaan bangsa pada tahun 2045, 100 tahun setelah Indonesia merdeka.

Bagi Prof. Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU), sudut pandang yang diambil AHY terbilang menarik. Sebab, AHY dengan berani menyoroti beberapa isu krusial seperti pademi, kualitas demokrasi yang menurun, efek disrupsi hingga buzzer.

“Mas AHY sudah benar mengatakan mengenai resiliency (daya tahan), sebagai kapasitas yang harus dimiliki oleh suatu bangsa seperti Indonesia,” kata dia kepada wartawan, Rabu (25/8/2021).

Profesor yang lahir dan besar di Makassar ini menilai, akan lebih menarik apabila persoalan resiliensi ini bisa diperkuat melalui peran-peran institusi karena di sini domain-nya Demokrat sebagai partai politik.

“Dalam gambar besarnya, resiliensi mencakup bagaimana kita berpolitik, bagaimana demokrasi disusun, bagaimana proses pembuatan kebijakan dilakukan, bagaimana partisipasi publik itu didorong dan lain-lain,” kata Associate Professor of Science, Technology and Society ini melanjutkan.

Sementara itu, pengamat politik dari UNJ Ubedilah Badrun menilai pidato Ketum AHY ini cukup berbeda dengan pidato Ketum-ketum parpol lain sebelumnya.

“Sebagai partai non pemerintah, wajar jika pidato AHY ini bernada cukup tajam. Kalau tidak kritis, apa bedanya PD dengan partai-partai koalisi pemerintah?” kata Ubedilah.

Mantan pemimpin gerakan mahasiswa tahun 1998 ini menyoroti bagian pidato AHY yang mempertanyakan mengapa kritik terhadap pemerintah selalu dianggap sebagai lawan. Padahal kritik selama ini diberikan untuk tujuan keselamatan rakyat.

“Itulah sebabnya berbagai elemen masyarakat sipil mengkritik dan memberi masukan pada Pemerintah. Apalagi kita tahu penanganan Covid-19 kacau balau, demikian pula dengan pemulihan ekonomi yang perlu dikritisi karena ada uang rakyat di situ,” kata Ubedillah.

Kirim Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini