Sabtu, Oktober 16, 2021

Praduga Dibalik Mundurnya Duterte

Must Read

PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte membuat langkah politik mengejutkan dengan mengumumkan pengunduran dirinya dari kancah politik pada Sabtu, 2 Oktober 2021, dan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan tahun depan.

Posisinya digantikan orang dekatnya, Senator Christopher Lawrence ”Bong” Go.

Pemimpin berusia 76 tahun itu mengatakan bulan lalu bahwa dia akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada 2022. Konstitusi negara itu hanya mengizinkan presiden untuk menjabat satu kali masa jabatan enam tahun.

Tapi kini Duterte mengatakan akan mundur dari kancah politik, karena “sentimen yang luar biasa dari orang Filipina adalah, bahwa saya tidak memenuhi syarat”.

Sejumlah pihak menyatakan, langkah mundur dirinya tidak lain dilakukan di tengah spekulasi jika putrinya bisa mencalonkan diri sebagai presiden.

Duterte dikenal sebagai “orang kuat yang kontroversial”, berkuasa pada tahun 2016 dengan berjanji untuk mengurangi kejahatan dan memperbaiki krisis narkoba di negara itu.

Tetapi para kritikusnya mengatakan bahwa selama lima tahun berkuasa, Duterte telah mendorong polisi untuk melakukan ribuan pembunuhan di luar proses hukum terhadap tersangka dalam apa yang disebutnya “perang melawan narkoba”.

Sara Duterte-Carpio diplot Filipina-1

Putri Duterte, Sara Duterte-Carpio, yang saat ini menjabat walikota kota selatan Davao, telah memberikan pesan beragam tentang pencalonan dirinya untuk jabatan tinggi.

Bulan lalu, Duterte-Carpio mengatakan bahwa dia tidak akan mengikuti perlombaan karena dia dan ayahnya telah sepakat bahwa hanya satu dari mereka yang akan mencalonkan diri dalam pemilihan Mei mendatang.

Namun, dia telah memimpin setiap jajak pendapat yang dilakukan tahun ini.

Duterte mengumumkan pengunduran dirinya yang mengejutkan di Manila, di mana dia diharapkan untuk mendaftarkan pencalonannya.

Pada kesempatan tersebut, Duterte mengatakan bahwa mencalonkan diri sebagai wakil presiden “akan menjadi pelanggaran konstitusi untuk menghindari pelanggaran hukum, serta semangat menegakkan konstitusi (the spirit of the constitution)”.

Juru bicara Duterte, Harry Roque, bagaimanapun tidak sepenuhnya mengesampingkan peran politik untuk Duterte di masa depan.

Saat diwawancara, Harry Roque lugas mengatakan bahwa pengumuman “berarti bahwa dia tidak tertarik pada wakil presiden lagi –apakah dia akan benar-benar pensiun dari politik atau tidak, saya harus mengklarifikasi hal ini dengan dia”.

Gaya Duterte harus dimaknai dengan ‘sedikit garam’

Pernyataan abu-abu Duterte memang bukan kali ini saja. Duterte punya gaya dalam mengatakan hal serupa, hanya untuk membuat langkah ‘putar balik’ beberapa minggu kemudian.

Masih ingat pada September 2015 saat menjelang pemilihan presiden?

Duterte yang menjabat Walikota Davao saat itu dengan lantang mengatakan, “saya berencana untuk pensiun dari kehidupan publik untuk selamanya.”

Namun kenyataannya, dalam langkah terakhir pada November tahun itu, Duterte terpilih sebagai kandidat partai PDP-Laban, yang berujung pada keberhasilannya memenangkan kursi kepresidenan pada Mei 2016.

Karena sikapnya yang kerap memberi komentar ‘putar balik itu, sejumlah Analis Politik di Filipina bahkan memberi komentar satire kepada Duterte, bahwa pengumuman hari Sabtu, 2 Oktober 2021 kemarin “sudah sesuai dengan buku pedoman 2015”.

“Duterte adalah operator yang cerdas, yang paham betul dirinya akan tahu kapan nama keluarganya diumumkan sebagai pemenang di jantung “gossip” negaranya,” kata salah seorang komentator “Filipina untuk gosip”.

Ketika Duterte pertama kali mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri, ada spekulasi luas bahwa dia akan mencari pasangan yang lemah secara politik untuk memerintah dari peran nomor dua.

Dia juga secara terbuka memikirkan bahwa, sebagai wakil presiden, dia akan kebal dari penuntutan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) karena memimpin “perang melawan narkoba” brutal yang telah menewaskan ribuan orang di negara itu.

Apakah Duterte sanggup mempertahankan kekebalan hukumnya?

Bayangkan, berdasarkan data yang dirilis organisasi hak asasi manusia internasional, Amnesty International, ada lebih dari 7.000 orang tewas oleh polisi atau penyerang bersenjata tak dikenal dalam enam bulan pertama kepresidenan Duterte.

Itu hanya enam bulan pertama Duterte didapuk menjadi presiden.

Dan pada bulan Juni 2021 lalu, jaksa pengadilan pidana internasional (International Criminal Court/ICC) sudah mengajukan permohonan untuk membuka penyelidikan penuh atas pembunuhan perang narkoba di Filipina, dengan menyebut “kejahatan terhadap kemanusiaan bisa saja dilakukan.”

Jika Sara Duterte-Carpio terpilih sebagai presiden, hampir dipastikan kemungkinannya akan melindungi ayahnya dari tuntutan pidana di Filipina dan dari jaksa ICC.

Oleh: Bobby Darmanto
Direktur Riset pada Enigma Research Consultant

Terbaru

Lolos Ke Semifinal, Indonesia Berhasil Bikin Malu Malaysia

Indoissue.com - Indonesia berhasil mengalahkan lawanya, yaitu Malaysia di babak perempat final Thomas Cup 2021 di Ceres Arena, Jumat...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com