Senjakala Demokrasi

0
43

Oleh : Bobby Darmanto
Aktivis Demokrasi

DEMOKRASI La Roiba Fih atau tidak ada keraguan di dalamnya, adalah salah satu judul buku yang pernah ditulis oleh Emha Ainun Najib (Cak Nun), salah satu tokoh intelektual dan budayawan yang punya banyak pengikut.

Dengan pandangan yang jernih, Cak Nun mengulas masalah demokrasi di negeri kita. Demokrasi itu bak ”perawan”, yang merdeka dan memerdekakan. Watak utama demokrasi adalah ”mempersilakan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan, atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama ”si perawan” yang bernama demokrasi, bahkan berhak memperkosanya: yang melarang memperkosa bukan si perawan itu sendiri, melainkan ”sahabat”-nya yang bernama moral dan hukum.

Kira-kira begitulah salah satu poin penting yang banyak diulas oleh buku tersebut. Cak Nun, dengan bahasa yang sangat sederhana, memberikan gambaran tentang “kesucian” demokrasi. Wataknya yang “mempersilakan”, membuat Demokrasi sangat vulnerable atau rentan. Rentan dibajak oleh kaum oligarkis, rentan pula dikebiri oleh para diktatorian.

Kondisi Demokrasi di Indonesia

Tantangan menjaga demokrasi Indonesia datang dari lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atau MPR RI yang merupakan lembaga tertinggi dari struktur negara kita. Beberapa hari menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-76, kita sempat dikejutkan oleh isu rencana amandemen ke-5 UUD 1945 terkait dengan masa jabatan tiga periode. Lagi dan lagi, upaya untuk merusak kualitas demokrasi kita kembali diuji.

Kita semua tentunya bisa membaca, bahwa ditengah pro dan kontra soal rencana amandemen ke-5 ini, tersirat makna bahwa masih ada upaya dari kaum oligarkis di negara ini untuk tetap melanggengkan kekuasaan atas dasar nafsu dan keserakahan. Isu ini sangat berbahaya dan sekali lagi akan menimbulkan semangat despotic government atau pemerintahan yang despotik. Montesquieu, seorang filsuf era abad ke-18 asal Prancis pernah mengingatkan kita bahwa “despotism is an ever-present danger and a persistent threat to human flourishing everywhere and always.”

Kirim Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini