Smelter Milik Investor China Rugikan Negara Ratusan Triliun

0
1
Faisal Basri

Indoissue.com – Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menilai smelter milik investor China yang ada di Indonesia membuat negara mengalami kerugian hingga ratusan triliun.

Faisal lalu membandingkan harga nikel jika dibeli di China dengan di beli oleh pengusaha China yang punya smelter di Indonesia harganya selisih hingga US$ 60 per ton.

“Coba bayangkan kalau pengusaha China punya smelter di China itu beli bijih nikelnya US$ 80 per ton, tapi kalau pengusaha china yang punya smelter di Indonesia beli bijih nikelnya US$ 20 per ton, kan bodoh kita. Jangan diobral begitu,” ujar Faisal dalam sebuah video, pada Senin (1/10/2021).

Dalam penjelasannya Faisal menilai smelter milik investor China di RI tidak sepenuhnya mendukung industrialisasi di Indonesia.

Hal tersebut, karena ternyata mereka masih melakukan eksport produk turunan nikel setengah jadi.

Sejak melakukan ekport tersebut dalam 5 tahun terakhir hal itu telah merugikan Indonesia sekitar Rp 200 triliun.

“Setidaknya Rp 200 triliun dalam 5 tahun ini, coba bayangkan. Dan sampai sekarang tidak ada lembaga pemerintah yang menyanggah ucapan saya itu,” tegasnya.

“Mereka malu, mereka pun tahu tapi mereka tidak berdaya. Nah pasti ada kekuatan yang besar sekali di balik itu yang membacking. Saya mengatakan juga mereka tidak perlu PR, karena PR-nya Pak Luhut dan kantornya sendiri,” lanjutnya.

Bahkan, beberapa smelter nikel milik investor China di Indonesia ternyata mendatangkan TKA China yang begitu banyak.

“Sudah itu mereka bebas bawa pekerjanya bukan yang ahli, kalau ahli kita nggak keberatan, tapi kalau bawa tukang kebun, yes tukang kebun, saya datanya ada semua,” papar Faisal

“Insya Allah saya bicara dengan data selalu. Kemudian satpam, lantas juru masak. Ya boleh 1-2 orang juru masak, tapi jangan semua dong,” lanjutnya.

Sebelumnya pada 12 Oktober lalu Faisal menerangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tidak ada ekspor untuk komoditas dengan kode HS 2604 di tahun 2020.

Namun, berdasarkan data General Customs Administration of China mencatat bahwa masih ada 3,4 juta ton impor komoditas HS 2604 dari Indonesia.

Kirim Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini