Sabtu, Oktober 16, 2021

Untuk Meredam Dominasi China, AUKUS Inisiasi 8 Kapal Selam Nuklir untuk Australia

Must Read
IndoIssue.com adalah media online yang fokus pada berita politik nasional, daerah dan internasional, serta menyuarakan opini & aspirasi melalui suara netizen.

Indoissue.com – Untuk meredam dominasi Cina, delapan kapal selam bertenaga nuklir akan dibangun Australia di bawah kemitraan pertahanan dan keamanan Australia, Inggris, Amerika Serikat (AUKUS – Australia, United Kingdom, United States defence and security partnership).

Pada Rabu (15/09/2021) lalu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyepakati pakta pertahanan tripartit bertajuk AUKUS.

Argumen pertemuan eksklusif ketiga pemimpin negara tersebut adalah, “Dunia kami menjadi lebih kompleks, terutama di sini di kawasan kita, Indo-Pasifik,” ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, dikutip Reuters pada Kamis (16/9/2021).

“Ini adalah peluang bersejarah bagi ketiga negara, dengan sekutu dan mitra yang berpikiran serupa, untuk melindungi nilai-nilai bersama serta mempromosikan keamanan dan kesejahteraan di kawasan Indo-Pasifik,” seperti dilansir dari pernyataan bersama AS, Inggris, dan Australia.

Australia menjadi negara kedua yang diberi akses ke teknologi nuklir AS untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Hal yang sama yang dilakukan Amerika Serikat kepada Inggris di tahun 1958.

“Untuk memenuhi tantangan ini, demi membantu memberikan keamanan dan stabilitas yang dibutuhkan kawasan kami, kami sekarang harus membawa kemitraan kami ke tingkat yang baru,” sesumbar Morrison.

Dihujat dan disambut baik Sekutunya

Adalah Selandia Baru, negara yang menyambut baik kemitraan AUKUS tersebut. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyambut baik kerja sama yang fokus pada kawasan Indo-Pasifik.

“Saya senang melihat bahwa fokus telah dialihkan ke wilayah kami dari mitra yang bekerja sama dengan kami,” urai Jacinda bangga.

Namun Jacinda juga menegaskan, kapal selam itu tak akan diizinkan berlayar di perairan teritorialnya berdasarkan kebijakan bebas nuklir di negara itu.

“Ini adalah wilayah yang diperebutkan, dan ada peran yang bisa dimainkan orang lain dalam mengambil ketertarikan di wilayah kami,” lanjutnya.

Berbeda dengan Selandia Baru, Menlu Prancis mengutuk kerja sama pengadaan kapal selam nuklir antara AS dan Inggris dengan Australia, menuduh mereka telah melakukan kebohongan atas pakta keamanan baru dan mendorong Paris menarik kembali duta besarnya.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi France 2, Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian juga menuduh negara-negara itu “duplikasi, pelanggaran besar kepercayaan dan penghinaan”.

Kekesalan Prancis beralasan, sebab, AUKUS menggagalkan kesepakatan bernilai miliaran dolar yang telah ditandatangani Prancis dengan Australia, terkait kerjasama pembangunan sistem persenjataan nuklir.

AUKUS pakta pertahanan paling signifikan pasca PD II

Namun sejumlah analis keamanan, analis persenjataan, dan analis politik internasional menilai bahwa, boleh jadi AUKUS merupakan pakta pertahanan paling signifikan yang dibuat ketiga negara tersebut sejak Perang Dunia II.

“Ini benar-benar menunjukkan bahwa ketiga negara itu telah menarik garis dan menangkal langkah agresif (dominasi China),” kata Guy Boekenstein dari lembaga kajian Asia Society Australia.

Kesepakatan tersebut tidak secara gamblang menyebut kekuatan dan kehadiran militer China di kawasan Indo-Pasifik, namun ketiga pemimpin itu berulang kali merujuk kerisauan pada keamanan kawasan yang mereka katakan “berkembang secara signifikan”.

“Hanya ada enam negara di dunia yang punya kapal selam bertenaga nuklir. Kapal-kapal itu memiliki kemampuan penggentar teramat kuat walau tanpa senjata nuklir,” urai Direktur Pertahanan, Strategi, dan Keamanan Nasional dari lembaga Australian Strategic Policy Institute, Michael Shoebridge.

Kapal selam nuklir solusinya

Selain menginisiasi delapan kapal selam nuklir yang diproduksi di Adelaide, Australia Selatan, pakta AUKUS juga menyetujui saling berbagi informasi dan teknologi antar ketiga negara di sejumlah bidang, termasuk intelijen, teknologi kuantum, dan pembelian misil jelajah.

Namun pembuatan kapal selam bertenaga nuklir dianggap sebagai kunci meredam dominasi China.

Sebab, kapal selam bertenaga nuklir melaju jauh lebih senyap ketimbang kapal selam konvensional serta lebih sulit dideteksi.

Sedikitnya akan ada delapan kapal selam bertenaga nuklir yang dibuat, meskipun belum jelas kapan bisa dikerahkan untuk bertugas. Prosesnya akan memakan waktu lebih lama karena kurangnya infrastruktur nuklir di Australia.

Ketika rampung dibuat, kapal-kapal selam itu tidak akan dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir tapi hanya ditenagai dengan reaktor nuklir.

“Saya tegaskan, Australia tidak ingin memperoleh senjata nuklir atau menciptakan kemampuan nuklir untuk sipil,” kata Perdana Menteri Australia, Scott Morrison.

Presiden AS Joe Biden mengatakan, “Bakal ada waktu konsultasi selama 18 bulan antara tim dari ketiga negara untuk memutuskan cara kerja serta memastikan kepatuhan dengan komitmen non-proliferasi,” katanya kepada media. (DP)

Terbaru

Lolos Ke Semifinal, Indonesia Berhasil Bikin Malu Malaysia

Indoissue.com - Indonesia berhasil mengalahkan lawanya, yaitu Malaysia di babak perempat final Thomas Cup 2021 di Ceres Arena, Jumat...
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com